Fenomena alam berupa gerhana matahari yang terjadi bertepatan Hari Raya Nyepi 9 Maret 2016 menjadi pemberitaan khusus media massa. Ragam makna ditafsiri publik terhadap kejadian langka itu. Bagi orang Samin yang beragama Adam, gerhana disikapi dengan berdoa sebelum/menjelang gerhana dengan memohon kepada Yai (Tuhan) agar diberi kesehatan dan keselamatan, kata Budi Santoso, sesepuh Samin di Desa Larekrejo, Kecamatan Undaan Kudus. Kata 'yai' secara bahasa/kiratabasa bermakna: yeng ngayahi semubaraning kebutuhane anak Adam (yang memenuhi segala kebutuhan manusia). Santoso pun mengajak keluarganya untuk memohon keselamatan pada Yai secara mandiri di rumahnya.
Apakah warga Samin lainnya juga berdoa? Berdoa merupakan standar kualitas keberagamaannya. Menurut Moh Rosyid, peneliti Samin, upaya yang dilakukan warga Samin sebagai bukti bahwa mereka bertuhan dan memiliki ritual khas, bukan tak bertuhan sebagaimana anggapan sinis sebagiaan publik selama ini. Stigma itu dihembuskan kolonial Belanda pada publik imbas perlawanan Samin dengan cara tak membayar pajak. Dalihnya, pajak tak untuk kesejahteraan warga pribumi tapi memperkaya diri penjajah. Pascakemerdekaan, warga Samin menaati aturan pemerintah dengan membayar pajak karena untuk kesejahteraan rakyat.
Menyikapi perbedaan anggapan ini, idealnya publik tak latah menerima cerita yang tak berdasar realitas yang dilakukan wong Samin. Banyaknya stigma yang masih melekat dialamatkan pada wong Samin, meski tak benar seperti bila bertamu pada wong Samin dan tak mau menikmati hidangan yang disajikan maka pada saat bertamu berikutnya tak diberi sugatan/hidangan. Keterbukaan warga Samin berinteraksi dengan dunia lintas komunitas sebagai langkah awal mengurangi stigma, tandas Rosyid yang juga dosen STAIN Kudus ini.@Mohrosyid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar