Bangsa Indonesia khususnya yang muslim sensitif bila ada pihak mencoba koneks dengan Israel, mengapa? Israel menjajah negara Palestina yang berdaulat. Perasaan itu sangat wajar karena di Palestina ada Masjid Baitul Maqdis, kota/tempat suci Islam. Jurnalis Indonesia yakni Tempo, Kompas, Bisnis Indonesia, Metro Tv, Jawa Pos, dan Jakarta Post diundang Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk berdiskusi di Israel Senin 28/3/2016 atas inisiatif Kemenlu Israel.
Israel berharap agar Indonesia membangun hubungan bilateral dengan menawarkan potensi teknologinya. Presiden Jokowi tatkala KTT Luar Biasa OKI pada 7/3/2016 di Jakarta mengajak dunia agar memboikot produk Israel. Tapi data BPS 2014, impor Indonesia dari Israel mencapai 13,01 juta dollar AS, pada 2015 menjadi 77,7 juta dollar AS. Ekspor dan impor kedua negara sejak 2000, era Presiden Gus Dur.
Berkait agama Baha'i yang memiliki kota suci Akka dan Haifa di Israel, tempat dimakamkannya Baha'ullah dan Abdul Baha' (tokoh Baha'i), menurut Moh Rosyid, peneliti Baha'i, menyisakan persoalan, mengapa? Secara rasional, umat Baha'i di dunia, termasuk di Indonesia, dihipotesakan sepakat bila Indonesia menjalin hubungan bilateral dengan Israel karena kemudahan birokrasi keimigrasian bila beribadah/pilgrim ke Israel (haji dalam Islam).
Perasaan ini bertolak belakang dengan perasaan muslim sebelum Israel hengkang dari Palestina, meski Palestina/Yerussalem sebagai kota suci multiagama. Untuk itu, perlu dialog lintas iman agar benih-benih kecurigaan tak meruncing menjadi konflik agama.
Saran Rosyid, yang juga dosen STAIN Kudus, idealnya umat Baha'i membuka diri dengan dialog, agar tak mengundang persoalan baru demi mewujudkan kehidupan multiagama yang toleran secara utuh. @Mohrosyid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar