Translate

Tampilkan postingan dengan label Liputan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2016

Mengantisipasi IMB Gereja Bukit Sion Desa Dersalam

Sabtu 26 Maret 2016 pukul 20-23 WIB pengelola Gereja Bukit Sion diundang musyawarah di Balai Desa Dersalam Kec Bae untuk membahas tindak lanjut permohonan izin mendirikan bangunan (IMB) pada Pemda. Gereja yang digunakan ibadah sejak 1980-an hingga kini itu diputuskan IMB-nya dalam rapat berupa Balai Pertemuan Bukit Sion, bukan IMB gereja. Pendeta Yesaya R. Setyawan menerima keputusan rapat.

Senin, 21 Maret 2016

Tali Akrap Nanam Pohon dan Sarasehan

Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan Pantura (Tali Akrap) Minggu 20/3/2016 pukul 08-14 wib mengadakan kegiatan penanaman pohon jenis tanjung, nyamplung, daun kupu-kupu, dan saga dari PR Djarum Kudus. Pohon ditanam di pinggiran makam umum dan area balai desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus agar makam di pinggir sungai itu tak longsor.

Kamis, 17 Maret 2016

Kronologi Renovasi Gereja Bukit Sion Dersalam Kudus

Wujud toleransi sejati bila umat beragama melaksanakan ajaran agamanya dengan seutuhnya dan memahami perasaan hati umat lain serta tak mengganggu ibadahnya. Perlunya belajar dengan perjalanan pengelola Gereja Bukit Sion Desa Dersalam Kec Bae, Kudus. Pada 11/2/1987 memberitahukan tertulis pada Kades setempat perihal aktivitas kerohanian yang diketahui/ditandatangani oleh Kades, Ketua RT setempat dan tetangga gereja.

Selasa, 08 Maret 2016

Perkawinan Toleran Romo Pandita Suparno

Kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk biologis di antaranya nikah/kawin. Hal ini dilakukan Romo Pandita Suparno Bodhicakra, pendeta agama Buddha, wihara Vajra Boddhi Manggala Rt.1/4 Desa Kutuk, Kec Undaan, Kudus. Romo Suparno (kakek, duda 3 anak) menikah dengan Rachel Romlah (janda 2 anak) Selasa 8/2/2016 pukul 19.30 WIB

Minggu, 28 Februari 2016

Forum Group Discussion (FGD) Matakin Jateng dan Kota Semarang dengan Tali Akrap


Pertemuan pertama antara komunitas lintas agama dan kepercayaan pantura (Tali Akrap) dengan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Jateng dan Majelis Agama Konghucu (Makin) Kota Semarang Minggu, 28/2/2016 di Sekretariat Matakin Jl.Panggung Mas Utara No.1 Tanah Mas Semarang. Forum Group Discussion (FGD) menjadi media curhat. Sejak Presiden Gus Dur mencabut lnpres No.14/67 yang melarang segala budaya dan agama yang beraroma Tionghoa di Indonesia.

Sabtu, 20 Februari 2016

Refleksi Cap Go Meh bagi Umat Konghucu di Kudus

Refleksi Cap Go Meh bagi Umat Konghucu di Kudus. Tan Liang Sing atau Te Ling Sing seorang Tionghoa semasa Sunan Kudus keduanya bermitra. Ia merupakan nama etnis Tionghoa satu-satunya yang diabadikan menjadi nama jalan raya di Kudus Jateng. Nama ini sebagai penanda bahwa di Kudus sejak dulu tercipta interaksi positif antara pribumi dengan Tionghoa sehingga di Kudus ada 3 Kelenteng, yang tertua Kelenteng Hok Tik Bio berdiri 1741.